Ketika Catatan Meminta Menulis

Ketika catatan ini meminta menulis tentang dirimu, aku tak tahu harus menulis apa. Banyak aksara yang coba kurangkai tentang kamu agar dapat membentuk berbagai kata dan menjadi potongan-potongan kalimat agar mudah kutata menjadi sebuah paragraf indah tentang kamu.  Kata demi kata sering bermunculan di benakku, namun tak dapat kurangkai menjadi kalimatmu. Mengapa?

Adakah kata yang kau ucapkan mengadung garis misteri yang tak kupaham? Ataukah aku begitu bodoh hingga tak dapat mencerna konsonan yang keluar dari bibirmu?
Sudah kucoba membuka buku tentang dirimu, tentang kita, namun lembaran demi lembaran tak dapat kucerna dengan seksama, ada kalimat-kalimat yang tersamar dari pandanganku. Mungkinkah huruf yang kau tuliskan begitu halus hingga tak tertangkap pandanganku? Atau mataku yang telah lamur hingga membentuk selaksa lingkaran katarak yang telah lahir di retinaku?

Aku sudah berusaha telaten merawat bukumu agar tak satu pun debu yang menempel pada sisi-sisinya, ku berikan parfummu pada setiap lembaran bukumu, agar kala lembaran itu terbaca, wangimu menyusup pada setiap lubang pori-poriku... andai saja kau tahu itu...

Dimanakah lembaran-lembaran yang kuberikan padamu, masikah kau simpan? Atau sudah kau robek dan membakarnya hingga menjadi serpuhan debu?  Ataukah sudah kau kucek dan meleparnya ke tong sampah?  Sudah kutanyakan namun kau tetap dalam diammu yang tak bergeming...
Andai kau tahu, bahwa lembaran-lembaranmu telah kujilid menjadi buku yang telah tersusun rapi dalam pustakaku...  Andai kau tahu bahwa buku-buku itu setiap harinya selalu kubaca dan kubaca agar dapat memahami apa yang terkadung dalam tulisanmu...

“Mengapa kamu mengharuskan aku mencetak lembaran-lembaranmu dan menjilidnya tanpa cantumkan nama penulisnya?”

Pena ini masih tergenggam erat di jemariku...

Komentar

Postingan Populer